Google Apps, apaan lagi sih???

April 7, 2008

Hari Rabu, tanggal 26 Maret yang lalu, ada yang berbeda dari kuliah Knowledge Management yang saya ambil. Di mana letak bedanya ??? Perbedaannya itu terletak pada tempat kita kuliah. Kalau biasanya kita kuliah di salah satu ruang kuliah bersama milik Fakultas Teknik Universitas Indonesia, yaitu K.210, kali ini kita kuliah di salah satu laboratorium milik Departemen Teknik Industri FTUI, yaitu laboratorium Permodelan Sistem (alias lab. Permod). Perbedaan lainnya terletak pada proses pembelajarannya. Kalo biasanya kita hanya ngedengerin penjelasan dosen (walopun lebih banyak yang memilih untuk berimajinasi sendiri daripada dengerin..=P), kali ini tuh kita yang lebih aktif. Yah, walopun teteup ada dosen yang ngejelasin.

Setiap orang dari kita dikasih satu buah komputer (dikasih dalam arti kata dipinjemin yah..=P). Trus kita disuruh melakukan proses transfer knowledge satu sama lain tanpa komunikasi suara (verbal). Kita hanya diperbolehkan komunikasi via internet alias chatting. Dalam hal ini, kita dibagi dalam 3 kelompok, di mana setiap kelompok diminta untuk membuat satu buah proposal sesuai dengan tema yang sudah ditentukan untuk masing-masing kelompok. Nah, biasanya kan kalo di kepanitiaan, proposal ini kita buat bareng-bareng dengan diskusi langsung. Tapi, di sini, proses penuangan ide dilakukan via chatting. Jadi, sama sekali tidak ada komunikasi verbal dalam kuliah ini. Kecuali ada pertanyaan yang diajukan untuk dosen ya..=)

Nah, Anda pasti bertanya-tanya, emang bisa ya bikin proposal melalui chatting ?? Gimana caranya ?? Uhm, pernah denger yang namanya Google Apps ga?? Google Apps inilah yang digunakan dalam proses pembuatan proposal tadi.

Apa sih Google Apps ??

Google Apps merupakan seperangkat fasilitas yang diberikan Google (penyedia layanan search engine nomor satu di dunia) yang menggunakan bahasa pemrograman AJAX dan digunakan untuk hosting beberapa produk, terutama untuk hosting e-mail. Hosting e-mail artinya kita menaruh lalu lintas data e-mail di server tersebut. Jadi, space atau hardisk dan bandwidth menjadi tanggung jawab perusahaan server yang menyediakan hosting e-mail. Namun, berbeda dengan perusahaan hosting lainnya yang masih membanderol harga “kapitalis” hingga Rp 1,5 juta per tahun hanya untuk kapasitas hosting e-mail sebesar 100MB, Google Apps justru menawarkan layanan hosting e-mail yang relatif murah bahkan gratis.

Secara umum, Google Apps punya tiga jenis layanan, yaitu Standard Edition, Premier Edition, dan Education Edition. Standard dan Education diberikan secara gratis dengan kapasitas per account e-mail hingga 6,5 GB, sedangkan Premier dibanderol dengan harga 50 dollar AS per account e-mail per tahun dengan kapasitas hingga 25 GB.

Fitur e-mail Google Apps tidak berbeda dengan fitur e-mail yang dimiliki oleh Gmail. Google Apps menyediakan fasilitas pencarian data di e-mail kita dan juga bisa digunakan untuk chatting secara instan ke sesame pengguna Gmail dan Google Apps.

Selain menyediakan fasilitas hosting e-mail, Google Apps juga menyediakan layanan gratis lainnya seperti Google Calendar untuk mengelola jadwal event/meeting, Google Docs untuk mengelola dokumen, Spreadsheet yang berfungsi sama dengan Microsoft Excel, Presentasi yang punya fungsi sama dengan Microsoft Powerpoint, dan The Start Page, yaitu tampilan website sederhana yang mampu menghubungkan fitur-fitur lainnya dari Google. Contoh halaman website yang disediakan Google Apps bisa dilihat di http://sites.google.com/a/altostrat.com/jkraus/Home.

Tertarik untuk segera menggunakan Google Apps ?? Eits, tahan dulu. Ada baiknya Anda menyimak beberapa tips hosting Google Apps di bawah ini sebelum Anda menggunakannya.

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Sebelumnya, Anda harus punya domain (alamat web) milik sendiri dan juga hosting untuk website Anda. Ada baiknya jika Anda menggunakan hosting yang memiliki control panel mudah seperti CPanel.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Daftar terlebih dahulu di www.google.com/a/, pilih yang Standard Edition atau dan Education Edition. Atau pilih Premier Edition jika ingin hosting dalam skala besar.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Anda akan diminta untuk verifikasi kepemilikan. Untuk itu, gunakan metode upload file yang di dalamnya berisi kode tertentu yang diberikan.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Anda akan diminta untuk mengubah record MX dari control panel hosting Anda yang berguna untuk mengarahkan lalu lintas data e-mail ke Google Apps. Tanyakan ke admin server jika Anda tidak mengetahui letak MX ini.

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Dari control panel pengelolaan domain di Google Apps, arahkan alamat akses e-mail dengan alamat web sendiri, misalnya http://mail.jakarta.com. Setelah itu, minta kepada admin server untuk mengubah DNS Zone ke alamat tersebut.

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Jika semuanya sudah selesai di-setting, maka tinggal menunggu waktu propagasi atau penyebaran Domain Name System (DNS) yang diperkirakan selesai dalam 24 jam. Terkadang kita justru bisa langsung mengaksesnya. Namun, hal ini bergantung pada kondisi internet pada saat itu.

Nah, udah ga sabar kan pengen nyoba Google Apps ?? Ya udah, silakan aja klik link berikut : http://www.google.com/a/?hl=id, dan nikmati layanan gratis dari Google Apps seppuuuuaaaasssnya..(dah kayak iklan aja..=P) SELAMAT MENCOBA!!!!


AJAX, apaan tuch???

April 7, 2008

Internet sepertinya bukan lagi merupakan hal yang baru bagi masyarakat dunia dewasa ini. Hal ini disebabkan karena internet mampu memenuhi kebutuhan kita akan informasi, berita, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun sudah banyak yang familiar dengan internet. Dengan adanya internet, ruang dan waktu tidak lagi menjadi batasan dalam berkomunikasi dengan berbagai orang di seluruh belahan dunia. Sebagai konsumen dari teknologi web, kita tentunya menginginkan tampilan web yang mengasyikkan, mudah dipakai, dan mudah dimanfaatkan.

Pada dasarnya, web merupakan kumpulan dari sejumlah hyperlink yang memungkinkan kita untuk menuju dari alamat situs yang satu ke lainnya dengan bahasa HTML (HyperText Markup Language ). Namun, dalam pengaplikasiannya, HTML tidak mungkin bisa berdiri sendiri dalam membuat suatu desain web yang benar-benar bagus. Oleh sebab itu, HTML selalu disertai dengan CSS (Cascading Style Sheet) yang berfungsi untuk mempercantik desain, Javascript yang berfungsi untuk membuat tampilan yang dinamis, dan juga XML (eXtensible Markup Language) yang berfungsi untuk mendefinisikan format data. Penggabungan antara Javascript dan XML menghasilkan satu bahasa pemrograman yang baru yaitu AJAX (Asynchronous Javascript and XML).

AJAX menekankan pada pengelolaan content dalam sebuah web. Kode Javascript mengambil data dari sebuah server dan menampilkannya pada bagian halaman web tanpa harus mengambil ulang seluruh data tampilan halaman web tersebut. Data yang diambil umumnya berbentuk XML. AJAX terdiri dari :

  • Strukturisasi sebuah web sesuai dengan standar yang menggunakan XHTML dan CSS .
  • HTML (HyperText Markup Language) yang digunakan dalam membuat halaman web dan dokumen-dokumen lain yang dapat ditampilkan dalam browser.
  • Tampilan yang dinamis dan interaktif menggunakan DOM (Document Object Model).
  • Pertukaran dan manipulasi data dengan menggunakan XML dan XSLT
  • Pembaharuan data secara asinkronisasi menggunakan XMLHttpRequest
  • serta JavaScript untuk menyatukan semuanya.

Untuk dapat mengaplikasikan AJAX, yang dibutuhkan adalah browser yang menyediakan layanan Javascript serta komponen XMLHTTP bagi pengguna Internet Explorer (IE) dan XMLHttpRequest untuk Firefox, Safary, Opera, dan sebagainya. Syarat ini sudah pasti terpenuhi mengingat sebagian besar pengguna internet menggunakan IE dan Firefox.

Ide awal tentang konsep AJAX ini dikemukakan oleh Rasmus Lerdorf dalam sebuah mailing list (milis). Berawal dari milis inilah, konsep AJAX mulai dikenal dan dipergunakan oleh orang banyak. Berikut adalah isi milis yang dikirimkan oleh Rasmus Lerdorf :

List: php-general

Subject: [PHP] Rasmus’ 30 second AJAX Tutorial – [was Re: [PHP] AJAX & PHP]

From: Rasmus Lerdorf <rasmus () lerdorf ! com>

Date: 2005-07-21 22:50:56

Message-ID: 42E026D0.3090601 () lerdorf ! com

I find a lot of this AJAX stuff a bit of a hype. Lots of people have

been using similar things long before it became “AJAX”. And it really

isn’t as complicated as a lot of people make it out to be. Here is a

simple example from one of my apps. First the Javascript:

function createRequestObject() {

var ro;

var browser = navigator.appName;

if(browser == “Microsoft Internet Explorer”){

ro = new ActiveXObject(“Microsoft.XMLHTTP”);

}else{

ro = new XMLHttpRequest();

}

return ro;

}

var http = createRequestObject();

function sndReq(action) {

http.open(‘get’, ‘rpc.php?action=’+action);

http.onreadystatechange = handleResponse;

http.send(null);

}

function handleResponse() {

if(http.readyState == 4){

var response = http.responseText;

var update = new Array();

if(response.indexOf(‘|’ != -1)) {

update = response.split(‘|’);

document.getElementById(update[0]).innerHTML = update[1];

}

}

}

This creates a request object along with a send request and handle

response function. So to actually use it, you could include this js in

your page. Then to make one of these backend requests you would tie it

to something. Like an onclick event or a straight href like this:

<a href=”javascript:sndReq(‘foo’)”>[foo]</a>

That means that when someone clicks on that link what actually happens

is that a backend request to rpc.php?action=foo will be sent.

In rpc.php you might have something like this:

switch($_REQUEST['action']) {

case ‘foo’:

/ do something /

echo “foo|foo done”;

break;

}

Now, look at handleResponse. It parses the “foo|foo done” string and

splits it on the ‘|’ and uses whatever is before the ‘|’ as the dom

element id in your page and the part after as the new innerHTML of that

element. That means if you have a div tag like this in your page:

<div id=”foo”>

</div>

Once you click on that link, that will dynamically be changed to:

<div id=”foo”>

foo done

</div>

That’s all there is to it. Everything else is just building on top of

this. Replacing my simple response “id|text” syntax with a richer XML

format and makine the request much more complicated as well. Before you

blindly install large “AJAX” libraries, have a go at rolling your own

functionality so you know exactly how it works and you only make it as

complicated as you need. Often you don’t need much more than what I

have shown here.

Expanding this approach a bit to send multiple parameters in the

request, for example, would be really simple. Something like:

function sndReqArg(action,arg) {

http.open(‘get’, ‘rpc.php?action=’+action+’&arg=’+arg);

http.onreadystatechange = handleResponse;

http.send(null);

}

And your handleResponse can easily be expanded to do much more

interesting things than just replacing the contents of a div.

-Rasmus

Nah, kebayang kan kalo ga ada AJAX dan bahasa pemrograman yang lain ?? Kita mungkin ga bisa tuh ngebaca web yang kita buka. Artinya, kita juga ga bisa ngedapetin ilmu apa-apa dari web tersebut. Jadi, berterima kasihlah pada Rasmus Lerdorf dan teman-temannya..=)

Sumber :

ilmukomputer.com/wp-content/uploads/2007/07/ekoheri-ajax.doc


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.